Saturday, May 10, 2014

PENYALURAN INFAQ MI-114 KE-14, KE-15, KE-16, DAN KE-17

Penyaluran Infaq MI-114 ke-16

Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim,
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,

13_22


Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (QS. Ar Rad ayat 22).


Sahabat Majelis Ilmu 114, Alhamdulillah dalam kegiatan Silaturahim Bulanan Majelis pada hari Jum’at, Jumadil Akhir 1435H/ 18 April 2014, Infaq Majelis Ilmu 114 ke-14, ke-15, ke-16 dan ke-17, telah disalurkan di daerah Jakarta Selatan, kepada empat orang mustahiq terdiri dari 2 orang Pemulung, 1 orang pekerja kebersihan, dan 1 orang fakir (perempuan dan anak-ankanya, bantuan berupa uang dan bahan makanan).

Penyaluran Infaq MI-114 ke-15

Para Sahabat MI-114 yang mau ikut share pendanaan untuk pengembangan Majelis dapat memberikan konfirmasi melalui email: majelis.ilmu114@yahoo.com dan memberikan konfirmasi kepada Kepala Baitul Mal MI-114.

Penyaluran Infaq MI-114 ke-14

InsyaAllah setiap niat dan upaya baik yang kita lakukan diridhai Allah SWT sebagai ibadah dan amal shaleh yang membawa baraqah fi dun’ya wa fil akhirath.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz,

MI-114

* * *

Sunday, April 27, 2014

ISLAM DAN MUSLIM – MENJAGA LISAN DAN TANGAN

lisan dan tangan

KUMPULAN NOMOR 4

عَÙ†ْ عَبْدِ اللَّÙ‡ِ بْÙ†ِ عَÙ…ْرٍÙˆ – رضى الله عنهما – عَÙ†ِ النَّبِÙ‰ِّ – صلى الله عليه وسلم – Ù‚َالَ الْÙ…ُسْÙ„ِÙ…ُ Ù…َÙ†ْ سَÙ„ِÙ…َ الْÙ…ُسْÙ„ِÙ…ُونَ Ù…ِÙ†ْ Ù„ِسَانِÙ‡ِ ÙˆَÙŠَدِÙ‡ِ ، ÙˆَالْÙ…ُÙ‡َاجِرُ Ù…َÙ†ْ Ù‡َجَرَ Ù…َا Ù†َÙ‡َÙ‰ اللَّÙ‡ُ عَÙ†ْÙ‡ُ

Dari Abdullah bin Umar r.a. Nabi SAW bersabda, "Muslim adalah orang yang menyelamatkan semua orang muslim dari lisan dan tangannya. Dan Muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah".
(HR. Bukhari nomor 10).

Matan hadits ini menjelaskan salah satu karakter muslim. Sebagaimana salah satu makna Islam adalah "selamat" yang diambil dari asal kata salima. Seorang muslim adalah seorang yang menyelamatkan, tidak mencelakakan dan menyakiti orang lain dengan perbuatan maupun ucapannya, terlebih sesama muslim.

Muhajir adalah orang yang berhijrah. Dalam bentuk jamak, kata muhajir akan berubah menjadi muhajirin, yang berarti orang-orang yang berhijrah. Hijrah dalam Al-Qur'an dikenal sebagai berpindahnya seorang muslim dari negeri kufur ke negeri Islam atau negeri yang aman untuk melaksanakan tuntunan Islam.

* * *

KHALIFAH ABDUL MALIK BIN MARWAN

images1

Imam asy-Sya'bi pernah membawa surat dari Khalifah Abdul Malik bin Marwan kepada Raja Romawi. Raja Romawi kagum pada kafasihan bahasa dan kepintaran asy-Syabi. Setiap kali ditanya tentang sesuatu, Imam asy-Sya'bi dapat menjawab dengan baik. Sehingga Raja Romawi bertanya kepadanya, "Apakah kamu dari keluarga Khalifah ?". Asy-Sya'bi menjawab, "Bukan, saya hanya orang Arab biasa". Lalu Raja Romawi menulis surat kepada Khalifah Abdul Malik dan menitipkan kepada Imam asy-Syabi untuk menyampaikannya.

Sesampainya di Istana Khalifah, Imam asy-Sya'bi menyampaikan surat tersebut kepada Abdul Malik. Selesai membacanya, Abdul Malik bertanya kepada asy-Sya'bi, "tahukah anda isi surat tersebut ?". asy-Sya'bi menjawab, "tidak".

Abdul Malik kemudian membacakan isi surat tersebut kepada Imam asy-Sya'bi, "Sungguh saya mengagumi suatu kaum yang didalamnya hidup orang seperti asy-Sya'bi. Bagaimana bisa mereka menyerahkan urusan kerajaan kepada orang selain dia ?.

Kemudian Khalifah berkata kepada Imam asy-Sya'bi, "tahukah anda apa maksudnya ? asy-Sya'bi menjawab, "tidak".

Khalifah berkata, "dia telah menghasut saya tentang anda dan berharap agar saya menyingkirkan anda, dengan demikian umat Muslim akan kehilangan saudaranya yang berilmu.".

Perkataan Khalifah kepada Imam asy-Sya'bi tersebut akhirnya diketahui oleh Raja Romawi, dan dia berkata, "sungguh cerdas Khalifah kaum Muslimin, dia telah mengetahui strategi yang aku rahasiakan, bahkan dari orang-orang yang berada disekelilingku".

* * *
Kategori: Kisah

MUKJIZAT AL-QURAN – MEMBERITAKAN PERISTIWA MASA DEPAN

http://majelisilmu114.files.wordpress.com/2013/06/copy-of-islamic-541.jpg?w=182&h=217

Sisi keajaiban lain dari Al Qur'an adalah ia memberitakan terlebih dahulu sejumlah peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang. Ayat ke-27 dari surat Al Fath, misalnya, memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan menaklukkan Mekah, yang saat itu dikuasai kaum penyembah berhala:

"Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rosul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui, dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat." (Al Qur'an, 48:27).

Ketika kita lihat lebih dekat lagi, ayat tersebut terlihat mengumumkan adanya kemenangan lain yang akan terjadi sebelum kemenangan Mekah.

Sesungguhnya, sebagaimana dikemukakan dalam ayat tersebut, kaum mukmin terlebih dahulu menaklukkan Benteng Khaibar, yang berada di bawah kendali Yahudi, dan kemudian memasuki Mekah.

Pemberitaan tentang peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan hanyalah salah satu di antara sekian hikmah yang terkandung dalam Al Qur'an. Ini juga merupakan bukti akan kenyataan bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah, Yang pengetahuan-Nya tak terbatas. Kekalahan Bizantium merupakan salah satu berita tentang peristiwa masa depan, yang juga disertai informasi lain yang tak mungkin dapat diketahui oleh masyarakat di zaman itu.

Yang paling menarik tentang peristiwa bersejarah ini, adalah bahwa pasukan Romawi dikalahkan di wilayah terendah di muka bumi. Ini menarik sebab "titik terendah" disebut secara khusus dalam ayat yang memuat kisah ini. Dengan teknologi yang ada pada masa itu, sungguh mustahil untuk dapat melakukan pengukuran serta penentuan titik terendah pada permukaan bumi. Ini adalah berita dari Allah yang diturunkan untuk umat manusia, Dialah Yang Maha Mengetahui.

KEMENANGAN BIZANTIUM

Penggalan berita lain yang disampaikan Al Qur'an tentang peristiwa masa depan ditemukan dalam ayat pertama Surat Ar Ruum, yang merujuk pada Kekaisaran Bizantium, wilayah timur Kekaisaran Romawi. Dalam ayat-ayat ini, disebutkan bahwa Kekaisaran Bizantium telah mengalami kekalahan besar, tetapi akan segera memperoleh kemenangan.

"Alif, Lam, Mim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang)." (Al Qur'an, 30:1-4).

Ayat-ayat ini diturunkan kira-kira pada tahun 620 Masehi, hampir tujuh tahun setelah kekalahan hebat Bizantium Kristen di tangan bangsa Persia, ketika Bizantium kehilangan Yerusalem. Kemudian diriwayatkan dalam ayat ini bahwa Bizantium dalam waktu dekat menang. Padahal, Bizantium waktu itu telah menderita kekalahan sedemikian hebat hingga nampaknya mustahil baginya untuk mempertahankan keberadaannya sekalipun, apalagi merebut kemenangan kembali. Tidak hanya bangsa Persia, tapi juga bangsa Avar, Slavia, dan Lombard menjadi ancaman serius bagi Kekaisaran Bizantium. Bangsa Avar telah datang hingga mencapai dinding batas Konstantinopel. Kaisar Bizantium, Heraklius, telah memerintahkan agar emas dan perak yang ada di dalam gereja dilebur dan dijadikan uang untuk membiayai pasukan perang. Banyak gubernur memberontak melawan Kaisar Heraklius dan dan Kekaisaran tersebut berada pada titik keruntuhan. Mesopotamia, Cilicia, Syria, Palestina, Mesir dan Armenia, yang semula dikuasai oleh Bizantium, diserbu oleh bangsa Persia. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.)

Pendek kata, setiap orang menyangka Kekaisaran Bizantium akan runtuh. Tetapi tepat di saat seperti itu, ayat pertama Surat Ar Ruum diturunkan dan mengumumkan bahwa Bizantium akan mendapatkan kemenangan dalam beberapa tahun lagi. Kemenangan ini tampak sedemikian mustahil sehingga kaum musyrikin Arab menjadikan ayat ini sebagai bahan cemoohan. Mereka berkeyakinan bahwa kemenangan yang diberitakan Al Qur'an takkan pernah menjadi kenyataan.

Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama Surat Ar Ruum tersebut, pada Desember 627 Masehi, perang penentu antara Kekaisaran Bizantium dan Persia terjadi di Nineveh. Dan kali ini, pasukan Bizantium secara mengejutkan mengalahkan pasukan Persia. Beberapa bulan kemudian, bangsa Persia harus membuat perjanjian dengan Bizantium, yang mewajibkan mereka untuk mengembalikan wilayah yang mereka ambil dari Bizantium. (Warren Treadgold, A History of the Byzantine State and Society, Stanford University Press, 1997, s. 287-299.).

Akhirnya, "kemenangan bangsa Romawi" yang diumumkan oleh Allah dalam Al Qur'an, secara ajaib menjadi kenyataan.

Keajaiban lain yang diungkapkan dalam ayat ini adalah pengumuman tentang fakta geografis yang tak dapat ditemukan oleh seorangpun di masa itu.

Dalam ayat ketiga Surat Ar Ruum, diberitakan bahwa Romawi telah dikalahkan di daerah paling rendah di bumi ini. Ungkapan "Adnal Ardli" dalam bahasa Arab, diartikan sebagai "tempat yang dekat" dalam banyak terjemahan. Namun ini bukanlah makna harfiah dari kalimat tersebut, tetapi lebih berupa penafsiran atasnya. Kata "Adna" dalam bahasa Arab diambil dari kata "Dani", yang berarti "rendah" dan "Ardl" yang berarti "bumi". Karena itu, ungkapan "Adnal Ardli" berarti "tempat paling rendah di bumi".

Yang paling menarik, tahap-tahap penting dalam peperangan antara Kekaisaran Bizantium dan Persia, ketika Bizantium dikalahkan dan kehilangan Jerusalem, benar-benar terjadi di titik paling rendah di bumi. Wilayah yang dimaksudkan ini adalah cekungan Laut Mati, yang terletak di titik pertemuan wilayah yang dimiliki oleh Syria, Palestina, dan Jordania. "Laut Mati", terletak 395 meter di bawah permukaan laut, adalah daerah paling rendah di bumi.

Ini berarti bahwa Bizantium dikalahkan di bagian paling rendah di bumi, persis seperti dikemukakan dalam ayat ini.

Hal paling menarik dalam fakta ini adalah bahwa ketinggian Laut Mati hanya mampu diukur dengan teknik pengukuran modern. Sebelumnya, mustahil bagi siapapun untuk mengetahui bahwasannya ini adalah wilayah terendah di permukaan bumi. Namun, dalam Al Qur'an, daerah ini dinyatakan sebagai titik paling rendah di atas bumi. Demikianlah, ini memberikan bukti lagi bahwa Al Qur'an adalah wahyu Ilahi.

Sumber: Harun Yahya.


Saturday, April 5, 2014

PENYALURAN INFAQ MI-114 KE-11, KE-12, DAN KE-13.


Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim,
Assalammu'alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,

2.267

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.".
(QS. Al Baqarah ayat 267).

Sahabat Majelis Ilmu 114, Alhamdulillah dalam kegiatan Silaturahim Bulanan Majelis pada hari Sabtu, Rabiul Akhir 1435H/ 22 Maret 2014, Infaq Majelis Ilmu 114 ke-11, ke-12, dan ke-13, telah disalurkan di daerah Grogol, Jakarta Barat, kepada tiga orang mustahiq terdiri dari 1 orang Pemulung, 1 orang petugas kebersihan, dan 1 orang pedagang kaki lima.

Copy of Penyaluran Infaq MI-114 ke-12 copy

Para Sahabat MI-114 yang mau ikut share pendanaan untuk pengembangan Majelis dapat memberikan konfirmasi melalui email: majelis.ilmu114@yahoo.com dan memberikan konfirmasi kepada Kepala Baitul Mal MI-114.

Copy of Penyaluran Infaq MI-114 ke-13 copy

InsyaAllah setiap niat dan upaya baik yang kita lakukan diridhai Allah SWT sebagai ibadah dan amal shaleh yang membawa baraqah fi dun'ya wa fil akhirath.
Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz,

MI-114

* * *

Thursday, March 27, 2014

JANGAN LALAI KARENA URUSAN DUNIA


Aqidah akan tercermin dari pandangan hidup manusia dan bagaimana cara manusia itu hidup. Dalam tuntunan Islam, orang-orang yang memiliki aqidah yang lurus memiliki salah satu sifat yang disebut "zuhud". Istilah zuhud punya kaitan erat dengan istilah "hubbud dun'ya".

Apa itu zuhud dan apa itu hubbud dun'ya ? Jawaban singkatnya: Hubbud dun'ya adalah cinta manusia kepada dunia lebih daripada cintanya kepada Allah swt. Sementara zuhud adalah sifat yang sebaliknya.

Dalam Al-Qur'an perumpamaan kehidupan duniawi adalah sebagai berikut: Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (QS. Yunus (10) Ayat 24).

Dalam ayat tersebut manusia diajak dan diajarkan untuk berpikir. Tujuan dari ajakan dan ajaran tersebut adalah agar manusia memberikan perhatian yang utama kepada tuntunan Islam yang tertuang dalam Al-Qur'an. Tuntunan-tuntunan itulah yang disebut "ilmu". Beberapa ulama bahkan menjelaskan bahwa hanya disebut ilmu apabila pengetahuan yang dimiliki manusia itu bisa mengantarkannya kepada sifat zuhud.
Bagaimana jika kita menolak ajakan dan ajaran tersebut ? Dalam tuntunan Islam,  merujuk pada kisah kaum Nabi-Nabi terdahulu, dijelaskan bahwa orang-orang yang sudah diajak dan diajarkan tetapi tidak mengikuti, disebut sebagai orang-orang yang sombong. Dalam Al-Qur'an, Allah swt berfirman:

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya. (QS. Al – A'raaf (7) Ayat 146).

Sebagai catatan, dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya Hamka dijelaskan bahwa turunnya ayat ini adalah sebagai pelajaran bagi kaum Nabi Muhammad saw atas sifat kaumnya Nabi Musa as, khususnya terkait dengan kesombongan Fir'aun. Dari ayat tersebut, sudah jelas dapat kita pahami bahwa orang-orang yang sombong adalah orang-orang yang enggan untuk memperhatikan ayat-ayat Qur'an. Selanjutnya kita diperingatkan bahwa keengganan tersebut menjadi salah satu sebab jin dan manusia akan ditransfer ke neraka setelah selesai berlaga di dunia. Mari kita perhatikan ayat berikut:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al – A'raaf (7) Ayat 179).

Dalam tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sombong adalah sifat takabur kepada ilmu Allah swt. Merasa ilmu-ilmu yang lain lebih penting dan lebih benar dibanding ilmu-ilmu Islam. Namun ada hal-hal tertentu yang tidak dikategorikan sebagai sifat sombong, yaitu meninggikan ilmu Islam. Ia menceritakan bahwa Imam Malik pernah diminta menghadap kepada Khalifah Muawiyah, untuk menerangkan tuntunan Islam. Saat datang utusan Khalifah menyampaikan maksud tersebut, beliau berkata "Ilmu itu didatangi bukan mendatangi". Maksud dari kalimat itu adalah jika anda ingin mendapatkan ilmu maka andalah yang selayaknya mencari dan menemui, bukan anda menunggu dan memerintahkan agar ilmu itu datang kepada anda. Pada akhirnya Khalifah Muawiyah datang ke rumah Imam Malik yang kalah megah dibanding Istana Khalifah untuk belajar disana.

Insyaallah penjelasan dari ayat-ayat tersebut, bisa menjadi "ilmu" untuk kita amalkan dan kita sampaikan kepada orang-orang yang kita sayangi agar tidak lalai dan semakin aktif serta istiqamah dalam mempelajari tuntunan Islam.

* * *

SAATNYA JADIKAN SHALAT KITA “BERKELAS”.


"Sesungguhnya Allah Ta'ala melihat pada orang yang Salat, selama orang itu tidak berpaling kepada yang lain" (Dirawikan Abu Dawud, An-Nasa'i dari Abi Dzar). Jika kita bisa menjaga sikap kita saat bertemu dengan orang yang kita cintai, maka sungguh menjaga hati dan lahiriyah saat Shalat adalah suatu keharusan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhannya.

Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. An-nisa (4) ayat 103). Iman Islam tidak hanya sekedar urusan administrasi yang ditunjukan dari status agama yang tertulis dalam KTP, tetapi salah satu wujud rilnya ditunjukan melalui Shalat. Maka jelaslah bahwa orang yang tidak menunaikan Shalat seharusnya berfikir ulang untuk mengklaim dirinya sebagai orang yang beriman.

Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya shalat-shalat itu menghapuskan dosa yang terjadi diantaranya, selama itu bukan dosa besar (Dirawikan Muslim dari Abu Hurairah ra). Barangsiapa menjumpai Allah, sedang dia menyia-nyiakan shalat, maka tidak diperdulikan oleh Allah sesuatu daripada kebajikan-kebajikannya (Dirawikan Ath-Thabrani dari Anas). Inilah salah satu wujud keadilan dalam Islam, dalam setiap tuntunannya diterangkan dengan jelas manfaat, hak dan sanksi bagi setiap orang yang menunaikan dan melalaikan kewajibannya.

Pembicaraan diatas bisa kita analogikan sebagai pembicaraan awal dalam urusan shalat. Layaknya orang yang bersekolah, tentu idealnya pada satu waktu akan naik kelas. Begitu pula shalat, bagi kita yang rutin telah mengerjakan shalat, idealnya mulai berupaya untuk meningkatkan "kelas" shalat kita ketingkatan yang lebih tinggi yaitu shalat yang khusyu'.

Allah swt berfirman "Kerjakanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS. Tha-haa (20) ayat 14). Apakah pada saat kita shalat, kita masih lebih sering mengingat yang selain Allah swt ?. "Janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan" (QS. An-nisaa (4) ayat 43). Apakah saat kita shalat, kita mengerti apa yang kita ucapkan ?. Inilah pertanyaan-pertanyaan kunci yang dapat menjastifikasi apakah shalat kita khusyu atau tidak.

Shalat yang khusyu' tidak berarti shalat sampai hilang kesadaran, bukan pula berarti shalat menggunakan bahasa daerah (selain bahasa Al-Qur'an) agar kita mengerti apa yang kita ucapkan, dan bukan pula shalat dengan gaya bebas senyaman yang kita mau. Kunci khusyu' adalah shalat untuk mengingat Allah, dan kita mengerti apa yang kita ucapkan pada setiap ucapan dalam gerakan shalat, sesuai dengan tuntunan Islam.

Berapa banyak orang yang dalam shalatnya masih lebih banyak mengingat acara televisi, tugas-tugas sekolah atau kuliah, pekerjaan-pekerjaan kantor, makanan dan minuman, janji dengan teman, dan lain sebagainya. Berapa banyak juga orang yang shalat, ia tidak minum khamar atau beer, tetapi ia tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Jika kita masih termasuk dalam kelompok orang-orang yang macam itu, maka marilah mulai hari ini kita benahi shalat kita bersama-sama.

Hati seumpama gelas, untuk mengisi shalat kita dengan kekhusyu'an, kita terlebih dahulu perlu memastikan hati kita kosong dari hal-hal lain, selain shalat. Isi hati kita dengan niat yang lurus untuk shalat, lillahi ta'ala, bukan rutinitas ta'ala, dan setelah itu kita tutup agar tidak dimasuki oleh sesuatu yang dapat merusak isinya. Hati bisa terpengaruh oleh penglihatan, pendengaran, maupun penciuman. Amankan tiga indera tersebut saat shalat.

Pertama, pastikan syarat wajib dan syarat sah shalat sudah kita tunaikan. Kedua, pastikan tempat kita shalat bebas dari gambar atau tampak suatu benda yang dapat mengalihkan perhatian kita. Ketiga, pastikan pula bahwa benda-benda seperti telepon seluler atau yang serupa sudah kita atur silent atau nonaktif untuk mengamankan pendengaran kita selama shalat. Keempat, pastikan tidak ada aroma entah dari pakaian atau dari badan kita, yang dapat mengganggu konsentrasi saat shalat. Jika semuanya sudah kita amankan, maka mari kita shalat sesuai dengan rukun yang telah ditetapkan dalam syariat.

Dalam buku terjemahan Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali oleh Prof. Tengku H. Ismail Yakub, disampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya shalat itu menetapkan hati, menundukan diri, merapati bathin, menyesali diri (Dirawikan At-Tirmidzi dari Al-Fadl bin Abbas). Diceritakan pula bahwa Rasulullah saw melihat seorang bermain-main dengan janggutnya dalam shalat, maka beliau bersabda: "jikalau khusyu' hati orang ini, niscaya khusyu'lah anggota-anggota badannya" (Dirawikan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah). Sesungguhnya diwajibkan shalat adalah karena menegakkan dzikir (mengingat) Allah Ta'ala (Dirawikan At-Tirmidzi dari Aisyah).

Fokus pada bacaan dalam setiap gerakan shalat. Jika saat ini kita sudah menghafal semua bacaan dalam shalat, maka kedepan kita perlu upayakan untuk mengetahui arti dari setiap bacaan tersebut. Jika saat ini kita sudah menghafal arti dari setiap bacaan dalam shalat, maka kedepan kita perlu upayakan untuk dapat menghayati arti dari setiap bacaan tersebut. Penghayatan itulah yang akan mengantarkan kita pada shalat yang lebih khusyu', InsyaAllah.

Istiqamah untuk khusyu' dalam shalat akan manjadikan kita sebagai ahli shalat khusyu'. Adalah Amir bin Abdullah termasuk orang yang khusyu' didalam shalat. Dan apabila ia mengerjakan shalat, kadang-kadang anaknya memukul rebana dan berbincang-bincang sesuka hatinya di rumah. Namun ia tidak terpengaruh oleh segala keributan itu. Rasulullah saw bersabda, dirikanlah shalat seperti shalat orang yang mengucapkan selamat tinggal (Dirawikan Abu Bakar bin Malik dari Ma'adz bin Jabal). Buatkanlah sangkaan didalam hati bahwa shalat yang anda lakukan saat ini adalah shalat terakhir, karena belum tentu umur anda akan sampai pada waktu shalat berikutnya. Maka, masuk ke akhirath, keluar dari dunia.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Mu'minuun (23) ayat 1, 2, 9-11). Inilah hasil dari shalat yang "berkelas".

* * *